Rabu, 28 November 2012

perubahan, pergeseran, dan pemertahanan bahasa


PERUBAHAN, PERGESERAN, DAN PEMERTAHANAN BAHASA
Bahasa dapat berubah karena adanya perubahan menyangkut mengenai bahasa sebagai kode, dimana sesuai dengan sifatnya yang dinamis, dan sebagi akibat persentuhan dengan kode-kode lain. Pergeseran bahasa menyangkut masalah mobitas penutur dimana sebagai akibat dari perpindahan penutur atau para penutur itu sendiri yang menyebabkan terjadinya pergeseran itu. Sedangkan pemertahanan bahasa lebih menyangkut masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa-bahasa lainnya.
A.    Perubahan Bahasa
Terjadinya perubahan bahasa tidak dapat diamati, sebab perubahan itu, sudah menjadi sifat hakiki bahasa, berlangsung dalam masa waktu relative lama, sehingga tidak mungkin diobservasi oleh seseorang yang mempunyai waktu relative terbatas. Namun yang dapat diketahui adalah bukti adanya perubahan bahasa itu. Namun adapula bahasa yang dapat diikuti perkembangannya sejak awal yakni bahasa Inggris, Arab, Indonesia, Melayu, dan bahasa Jawa, sebab bahasa-bahasa tersebut memiliki dokumen-dokumen tertulis. Tapi banyak bahasa lain yang tidak mengenal tradisi tulis dan tidak mempunyai dokumen apa pun. Adapun bukti adanya perubahan bahasa dalam bahasa inggris dapat kita lihat dari Fromkin dan Rodman. contoh bahasa inggris kuno dari abad ketujuh berikut yang dikutip dari Caedmon’s Hymn, serta bandingkan terjemahannya dalam bahasa inggris modern :
Nu sculon herian heofon-rices weard
( now we must praise heaven-kingdom’s Guardian )
Metodes meahte and his mod-ge panc
( the creator’s might and his mud-plans )
Contoh berikut adalah bahasa inggris pertengahan, yang dingunakan sekitar 1100 sampai 1500, di kutip dari  The Canterburry Tales  karya Chaucer :
Whan that Aprille with his shoures soate
( when April with its sweet showers  )
Berikut ini contoh bahasa inggris dari masa menjelang zaman pujangga Shakespeare :
Know ye this man ?
( Do you know  this man ? )
Selanjutnya contoh bahasa inggris dari abad ke-16, yang dianggap sebagai awal permulaan bahasa inggris modern, dikutip dari Shakespeare:
            The summoning of everyman called it is
            That of our lives and ending shows
            How transitory we be all day  
Contoh-contoh diatas menunjukkan telah terjadi perubahan dalam sejarah perkembangan bahasa inggris. Namun, bagaimana proses perubahan itu terjadi adalah tidak dapat diamati. Pembagian bahasa inggris menjadi bahasa inggris kuno, bahasa inggris pertengahan, dan bahasa inggris modern sebenarnya penentuan masanya bersifat relatif, sebab sebagaimana sudah disebutkan perubahan itu  tidak terjadi pada satu “titik” waktu tertentu, melainkan merupakan proses yang panjang.[1]
Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi, menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistic: fonologi, morfologi, sintaksis, semantic, maupun leksikon.
1)      Perubahan Fonologi

            Perubahan bahasa dapat terjadi dalam fonologi. Bahasa inggris modern tidak mengenal bunyi velar frikatif /x/. Padahal dalam bahasa inggris kuno bunyi itu ada. Misalnya pada kata (night) dulu dilafalkan (nixt), dan kata (saw) dulu dilafalkan (saux). Ini menjadi bukti adanya perubahan. Perubahan fonologis dalam bahasa Inggris ada juga yang berupa penambahan fonem. Bahasa inggris kuno  dan pertengahan tidak mengenal fonem /z/. lalu ketika terserap kata-kata seperti azure, measure, rouge dari bahasa prancis, maka fonem /z/ tersebut ditambahkan dalam khazanah fonem bahasa inggris. Perubahan bunyi dalam sistem fonologi bahasa indonesiapun dapat kita lihat. Sebelum berlakunya EYD, fonem /f/, /x/, dan /s/ belum dimasukan dalam khazanah fonem bahasa Indonesia; tetapi kini ketiga fonem itu telah menjadi bagian dalam khazanah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia lama hanya mengenal empat pola silabel, yaitu V, VK, KV, dan KVK; tetapi kini pola KKV, KKVK, KVKK telah pula menjadi pola silabel dalam bahasa Indonesia.[2]

2)  Perubahan Morfologi

Perubahan bahasa dapat juga terjadi dalam bidang morfologin yakni dalam proses pembentukan kata. Umpamanya, dalam bahasa Indonesia ada proses penasalan dalam proses pembentukan kata dengan prifeks me-  da pe-. Kaidahnya adalah: (1) apabila kedua prifeks itu diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /I/, /r/, /w/, dan /y/ tidak ada terjadi penasalan; (2) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /b/ dan /p/ diberi nasal /m/; (3) kalau diimbuhkan pada kata yanmg dimulai denga konsonan /d/ dan /t/ diberi nasal /n/; (4) kalai diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /s/ diberi nasal /ny/; dan bila diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /g/, /k/, /h/, dan semua vocal diberi nasal /ng/.[3] Kaidah ini susah diterapkan ssetelah bahasa Indonesia menyerap kata-kata yang bersuku satu dari bahasa asing, seperti kata sah, tik, dan bom. Menurut kaidah diatas jika ketiga kata itu diberi prefix me- dan pe- tentu bentuknya harus menjadi menyah(kan), menik, dan membom; dan penyah, penik, dan pembom. Tetapi dalam kenyataan bahasa yang ada adalah bentuk mensah(kan) atau mengesah(kan), mentik atau mengetik, membom atau mengebom. Jadi, dalam data tersebut telah terjadi penyimpangan kaidah. Namun, alomorf menge- dan penge- diakui ssebagai dua alomorf bahasa Indonesia untuk morfem me- dan pe-. Ini merupakan satu bukti adanya perubahan besar dalam morfologi bahasa Indonesia.

3)      Perubahan Sintaksis

Perubahan kaidah sintaksis dalam bahasa Inggris dapat kita lihat. Contoh mengenai perubahan kaidah sintaksis dalam bahasa inggris. Urutan kata (word order) dalam bahasa inggris kuno tidak terlalu penting, sebab ada penanda (merker) untuk menyatakan nomina subjek dan nomina objek. Contoh kalimat bahasa inggris kuno berikut yang semuanya bermakna “the man slew the king” (orang itu membunuh raja).

Se man slok thone kyning
Thone kyning slok se man
Se man thone kyning slok
Thone kyning se man slok
Slok se man thone kyning
Slok thone kyning se man

Se adalah artikel definit yang hanya digunakan untuk nomina  subjek, dan thone adalah artikel definit yang hanya dipakai untuk nomina objek. Kalau susunan kalimat-kalimat di atas diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa ingggris modern susunannya akan menjadi:

            The man slew the king
            The king slew the man
·         The man the king slew
·         The king the man slew
·         Slew the man the king
·         Slew the king the man

Dari kalimat di atas hanya kalimat pertama yang maknanya sama dengan kalimat-kalimat bahasa inggris kuno di atas. Kalimat kedua maknanya sudah berubah. Sedangkan empat kalimat berikutnya menurut kaidah bahasa inggris modern tidak grammatical, atau menyalahi kaidah gramatikal yang berlaku sekarang.

4)      Perubahan Kosakata

            Perubahan bahasa yang paling mudah terlihat adalah pada bidang kosakata. Perubahan kosakata dapat berarti bertambahnya kosakatanya baru, hilangnya kosakata lama, dan berubahnya makna kata. Bahasa inggris yang diperkirakan memiliki lebih dari 60.000 kosakata adalah “berkat” penambahan kata-kata baru dari berbagai sumber bahasa lain, yang telah berlangsung sejak belasan abad yang lalu. Sedangkan bahasa Indonesia yang kabarnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki sekitar 65.000 kosakata (dalam kamus poerwadarminta hanya terdapat 23.000 kosakata) adalah juga berkat tambahan berbagai sumber, termasuk bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa nusantara.
            Penambahan kata-kata baruselain dengan cara menyerap dari bahasa lain, dapat juga dilakukan dengan proses penciptaan. Misalnya, kata Kleenex dalam bahasa inggris dibentuk dari kata clean. Juga dari nama-nama produk atau merek dagang seperti Kodak, nylon, Dacron, dan orlon. Pemendekan dari kata atau frase yang panjang dapat juga membentuk kosakata yang baru, seperti nark, untuk narcotics agent, tec atau dick untuk detective, prof  untuk professor.
5)  Perubahan semantik
Perubahan semantik yang umum adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin berubah total, meluas atau menyempit. Perubahan yang bersifat total, maksudnya, kalau pada waktu dulu kata itu, misalnya, bermakna ‘A’, maka kini atau kemudian menjadi bermakna ‘B’. contohnya, kata bead dalam bahasa inggris aslinya bermakna “doa, sembahyang”, tetapi kini bermakna “tasbih, butir-butir tasbih”. Dalam bahasa Indonesia kita dapati contoh, kata pene dulu bermakna “bulu (angsa)”, tetapi kini berarti “alat tulis bertinta”, ceramah dulu bermakna “cerewet, banyak bicara”, tetapi kini bermakna “uraian mengenai satu bidang ilmu”.
Perubahan makna yang sifatnya meluas (broadening), maksudnya, dulu  kata tersebut hanya memiliki satu makna, tetapi kini memiliki lebih dari satu makna. Dalam bahasa inggris kata holiday asalnya hanya bermakna “hari suci (yang berkenaang dengan agama)”, tetapi kini bertambah dengan makna “hari libur”.
Perubahan makna yang menyempit, artinya, kalau pada mulanya kata itu memiliki makna luas, tetapi kini menjadi lebih sempit maknanya. Contohnya, kata sarjana pada mulanya bermakna “orang cerdik, pandai”, tetapi kini hanya bermakna “orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi”.
Wardhaught membedakan adanya dua macam perubahan bahasa, yaitu perubahan internal dan perubahan eksternal. Perubahan internal terjadi dalam bahasa itu sendiri, seperti berubahnya sistem fonologi, morfologi dan sintaksis. Sedangkan perubahan eksternal terjadi karena adanya pengaruh dari luar, seperti adanya penyerapan atau peminjaman kosakata, penambahan fonem dari bahasa lain, dan sebagainya.[4]

B.     Pergeseran bahasa
Sejak dilahirkan ke dunia ini, manusia mulai belajar bahasa. Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajari sejak kecil semakin dikuasainya sehingga jadilah bahasa yang dipelajari sejak kecil itu sebagai bahasa pertamanya. Dengan bahasa yang dikuasainya itu manusia berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.
Beranjak remaja, manusia sudah menguasai dua atau lebih bahasa. Semua itu diperoleh ketika berinteraksi dengan masyarakat atau ketika di bangku sekolah. Hal ini menyebabkan manusia menjadi dwibahasawan atau multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan atau multibahasawan, ia dihadapkan pada pertanyaan, yaitu manakah di antara bahasa yang ia kuasai merupakan bahasa yang paling penting? Di saat-saat seperti inilah terjadinya proses pergeseran bahasa, yaitu menempatkan sebuah bahasa menjadi lebih penting di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai. Pergeseran bahasa adalah sebuah peristiwa yang biasanya terjadi pada pelaku tutur yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan bahasa yang lain pula.[5]
Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang memberi harapan kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik. Sehingga mengundang para pendatang. Secara sederhana pergeseran bahasa para penedatang terssebut dilukiskan dalam diagram berikut:
Monolingual (B-ib) => Bilingual Bawahan (B-ib – B2) => Bilingual Setara (B-ib – B2)  => Bilingual Bawahan (B2 – B-ib) => Monolingual (B2)
Pada tahap pertama para imigran masih bermmonolingual dengan bahasa ibunya. Ini terjadi ketika mereka baru saja datang. Setelah beberapa lama, pada tahap kedua, mereka sudah menjadi bilingual bawahan dimana bahasa ibu masih lebih dominan. Pada ukuran waktu berikutnya, seperti yang digambarkan pada tahap ketiga, bilingualism mereka sudah menjadi setara. Penguasaan B2 sudah sama baiknya dengan penguasaan bahasa ibu. Selanjutnya, pada tahap keempat mereka menjadi bawahan kembali, tetapi dengan penguasaan bahasa yang berbeda. Kini penguasaan terhadap B2 jauh lebih baik dari pada penguasaan terhadap bahasa ibu. Akhirnya, pada tahap terakhir, mereka menjadi monolingual B2. Bahasa ibu telah mereka tinggalkan.

C.     Pemertahanan bahasa
Dari pembahasan mengenai pergeseran bahasa dapat kita saksikan bahwa penggunaan bahasa ibu oleh sejumlah penutur dari suatu masyarakat yang bilingual atau multilingual cenderung menurung akibat adanya B2 yang mempunyai fungsi yang lebih superior. Namun adakalnya penggunaan B1 yang jumlah penuturnya tidak banyak dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan B2 yang lebih dominan. Untuk menjelaskan ini kita ambil laporan dari Sumarsono mengenai pemertahanan penggunaan bahasa melayu Loloan di desa Loloan,termasuk dalam wilayah kota Nagara, Bali. menurut Sumarsono, penduduk desa Loloan yang berjumlah sekitar 300 orang itu tidak menggunakan bahasa Bali, melainkan menggunakan sejenis bahasa Melayu yang disebut bahasa Melayu Loloang, sebagai B1-nya, dan mereka semua beragama islam. Ditengah-tengah B2 yang lebih dominan, yaitu bahasa Bali, mereka dapat bertahan untuk tetap menggunakan bahasa pertamanya, yaitu bahasa Melayu Loloan, sejak abak ke-18 yang lalu. Menurut Sumarsono, ada beberapa faktor penyebab mereka dapat bertahan, yaitu:
Ø  Wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis agak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali.
Ø  Adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali yang mau menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan.
Ø  Anggita masyarakat Loloan mempunyai sikap keislaman yang tidaak akomoditif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali.
Ø  Adanya loyalitas yang tinggi dari anggota masyarakat Loloan terhadap bahasa Melayu Loloan, status bahasa ini yang menjadi lambing identitas diri masyarakat Loloan yang beragama Islam.
Ø  Adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.
Berbeda terhadap bahasa Indonesia. Pemertahanan masyarakat Loloan terhadap bahasa Bali tidak sekuat dengan pertahanan mereka terhadap bahasa Indonesia. Kedudukan dan status bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara, bahasa nasional, dan bahasa persatuan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada bahasa Bali menurut pandangan masyarakat Loloan. Dengan demikian, tampaklah bahwa pemertahanan bahasa Melayu Loloan terhadap bahasa Indonesia menjadi lemah. Banyak ranah sosial yang tadinya menggunakan bahasa Melayu Loloan dan bahasa Bali, kini menggunakan bahasa Indonesia, antara lain: ranah keluarga, ketetanggaan, kekariban, keagamaan, pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan. Dari kasus penggunaan bahasa Melayu Loloan, bahasa Bali, dan bahasa Indonesia yang ter jadi pada masyarakat Loloan dapat disimpulkan bahwa:
Ø  Penggunaan bahasa B2 milik mayoritas oleh kelompok minoritas, sehingga warga minoritas menjadi bilingual, tidaklah selalu berakibat bergeser atau punahnya B1 milik kelompokminoritas. bilingual tidak selalu mengakibatkan pergeseran atau punahnya B1 milik kelompok minoritas.
Ø  Penggunaan B2 baru (dalam hal ini bahasa Indonesia) oleh kelompok minoritas juga tidak memunahkan B1, tetapi hanya menggeser banyak B2 lama (dalam hal ini bahasa Bali), yang telah lebih dahulu dikenal) dan beberapa peran B1.[6]















[1] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan awal. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hal.178

[2] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan awal. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hal.180

[3] Dedi Suryadi, perubahan, pergeseran dan pemertahanan bahasa (http://doctorseducati.blogspot.com/2011/06/ diakses pada 24 November 2012)

[4] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan awal. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hal.181-187

[5] Nur Hidayati, pergeseran dan pemertahanan bahasa (http://gebyarbahasa.blogspot.com/2011/04/ diakses pada 24 November 2012)


[6] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan awal. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hal.193-195

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar